Pencemaran Merkuri Tambang Emas Rakyat: Pencegahan dan Pemulihan Tanah
- Leend

- 5 hari yang lalu
- 6 menit membaca

1. Pendahuluan: Ketika Emas Menghidupi, tetapi Tanah Menanggung Beban
Di banyak wilayah Indonesia, tambang emas rakyat bukan sekadar pekerjaan tambahan. Ia adalah cara bertahan hidup. Di daerah-daerah terpencil, di hulu sungai, di kawasan hutan dan perbukitan, tambang emas rakyat sering menjadi satu-satunya sumber pendapatan yang bisa diandalkan ketika pertanian tidak cukup dan pekerjaan lain tidak tersedia.
Namun di balik emas yang diambil dari tanah, ada dampak yang jarang dibicarakan secara jujur sejak awal. Dampak itu adalah pencemaran merkuri tambang emas rakyat.
Dampak ini tidak datang seperti banjir atau longsor yang langsung terlihat. Ia datang pelan. Tanah berubah warna. Lumpur menghitam. Air kolam berbau logam. Sungai menjadi keruh. Ikan berkurang. Sawah di sekitar tambang tidak lagi subur. Anak-anak mulai dilarang bermain di air karena dianggap berbahaya. Perubahan ini terjadi perlahan, selama bertahun-tahun, seiring merkuri terus dilepaskan ke lingkungan.
Merkuri digunakan bukan karena penambang tidak peduli lingkungan. Merkuri digunakan karena murah, mudah diperoleh, dan sudah lama dikenal sebagai cara sederhana untuk memisahkan emas. Dalam pengolahan emas skala kecil, merkuri mampu mengikat emas tanpa teknologi rumit.
Namun ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kemudahan ini membawa dampak besar. Telmer (2007) menjelaskan bahwa dalam penambangan emas skala kecil, setiap satu gram emas yang dihasilkan dapat melepaskan sekitar satu hingga tiga gram merkuri ke lingkunganĀ jika tidak dikendalikan. Merkuri tersebut tidak hilang setelah emas dipisahkan. Ia tertinggal di tanah, masuk ke air, dan menguap ke udara.
Merkuri bersifat racun. Paparan jangka panjang dapat merusak otak, ginjal, dan hati. Dampak ini paling berbahaya bagi anak-anak dan ibu hamil (Alfian, 2006). Karena itu, pencemaran merkuri tambang emas rakyatĀ bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah kesehatan, sosial, dan masa depan komunitas.

Artikel ini tidak bertujuan menyalahkan penambang. Artikel ini ditulis untuk menunjukkan bahwa ada jalan tengah yang masuk akal: menambang sambil mengurangi bahaya, mencegah pencemaran baru, dan memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.
2. Dari Mana Datangnya Pencemaran Merkuri Tambang Emas Rakyat
2.1 Proses Pengolahan Emas yang Menjadi Sumber Pencemaran
Dalam praktik tambang emas rakyat, pencemaran merkuri umumnya berasal dari tiga tahap utama yang saling berkaitan:
Pertama adalah pencampuran merkuri dengan material tambang (amalgamasi). Pada tahap ini, merkuri dicampurkan dengan batuan hasil galian untuk mengikat emas. Jika penggunaan merkuri berlebihan, sebagian merkuri akan terlepas ke lingkungan sejak tahap ini.
KeduaĀ adalah pembakaran amalgam tanpa alat penangkap uap. Tahap ini sangat berbahaya karena merkuri dipanaskan hingga menguap. Tanpa alat penangkap, uap merkuri akan terhirup langsung oleh penambang dan orang di sekitarnya, lalu mengendap kembali ke tanah dan air.
Ketiga adalah pembuangan sisa pengolahan (tailing). Di banyak lokasi tambang emas rakyat, tailing dibuang langsung ke tanah, kolam terbuka, atau sungai. Tailing ini masih mengandung merkuri dan menjadi sumber pencemaran jangka panjang.
Ketiga tahap ini sering dilakukan di lokasi yang sama, berulang kali, dalam waktu lama. Akibatnya, merkuri menumpuk di satu tempat.
Penelitian di berbagai wilayah tambang emas rakyat menunjukkan bahwa tanah di sekitar tromol, lokasi pembakaran, dan kolam galian lama memiliki kandungan merkuri paling tinggi (Mirdat et al., 2013).
2.2 Tanah sebagai Penyimpan Racun Jangka Panjang
Penelitian di Desa Monti, Kabupaten Sarolangun, Jambi, menunjukkan bahwa kadar merkuri tanah di lahan bekas tambang emas rakyat mencapai 0,773ā0,860 mg/kg. Angka ini jauh di atas batas aman tanah 0,3 mg/kgĀ sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 Tahun 2014.
Artinya, tanah tersebut sudah tercemar dan tidak aman untuk pertanian tanpa pemulihan. Tanah bukan hanya tempat lewatnya merkuri, tetapi penyimpan racun jangka panjang.
Inilah sebabnya pencemaran merkuri tambang emas rakyatĀ sering tetap berdampak meskipun kegiatan tambang sudah berhenti. Tanah yang tercemar dapat terus melepaskan merkuri ke lingkungan selama bertahun-tahun.
3. Ketika Alam Masih Bertahan: Tumbuhan Lokal di Lahan Bekas Tambang
Di tengah kondisi tanah yang rusak, alam ternyata belum sepenuhnya mati. Penelitian lapangan menunjukkan bahwa tumbuhan liar tetap tumbuh di lahan bekas tambang emas rakyat. Bukan tanaman mahal, bukan tanaman hasil rekayasa, tetapi tumbuhan lokal yang sudah lama hidup di wilayah tersebut.
Penelitian di Sarolangun mencatat 14 jenis tumbuhan lokalĀ yang tumbuh di lahan bekas tambang emas rakyat. Dari jumlah tersebut, tiga tumbuhan memiliki Indeks Nilai Penting (INP)Ā tertinggi, yang menunjukkan dominasi dan kemampuan adaptasi yang kuat terhadap lingkungan tercemar:
Gelagah (rumput rawa)
Senduduk
Purun

Nilai INP yang tinggi menunjukkan bahwa tumbuhan-tumbuhan ini mampu bertahan di tanah tercemar dan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang berat (Romadhon, 2008; Ardiyati, 2018). Akar mereka hidup langsung di tanah yang mengandung merkuri.
Keberadaan tumbuhan ini menunjukkan bahwa alam masih berusaha bertahan, meskipun berada dalam tekanan berat akibat pencemaran merkuri tambang emas rakyat.
4. Fitoremediasi: Peran Tumbuhan dalam Menghadapi Merkuri
4.1 Apa Itu Fitoremediasi
Fitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan untuk menyerap, menahan, atau mengurangi pencemar di tanah dan air (Alkorta et al., 2004). Metode ini banyak dikaji karena biayanya relatif rendah dan cocok untuk wilayah dengan keterbatasan teknologi, termasuk tambang emas rakyat (Juhriah & Alam, 2016).
Namun fitoremediasi bukan keajaiban. Ia bekerja perlahan dan memiliki batas.
4.2 Bagaimana Kemampuan Tumbuhan Diukur
Dalam penelitian ilmiah, kemampuan tumbuhan diukur dengan beberapa parameter:
Biological Accumulation Coefficient (BAC)
Biological Concentration Factor (BCF)
Translocation Factor (TF)
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā (Cui et al., 2007; Yoon et al., 2006)
Tanaman dengan nilai di atas 1 disebut hiperakumulator dan mampu menyerap logam dalam jumlah sangat besar (Baker et al., 2000).
Hasil penelitian di Sarolangun menunjukkan bahwa seluruh nilai BAC, BCF, dan TF berada di bawah 1. Artinya, tumbuhan lokal bukan penyedot tanpa batas, tetapi mampu menyerap dan menahan merkuri secara perlahan.
Di antara ketiganya, gelagah memiliki nilai tertinggi, sehingga paling efektif digunakan pada lahan bekas tambang emas rakyat.
5. Kesalahan Umum dalam Menangani Pencemaran Merkuri
Kesalahan paling sering terjadi adalah menganggap bahwa menanam tumbuhan saja sudah cukupĀ untuk menyelesaikan masalah.
Ilmu pengetahuan dengan jelas menyatakan bahwa fitoremediasi tidak akan berhasil jika sumber pencemaran masih berjalanĀ (Pilon-Smits, 2005).
Jika merkuri terus dilepaskan ke tanah setiap hari:
tanah tidak akan pulih
tumbuhan akan jenuh racun
pencemaran hanya diperlambat, bukan dihentikan
Karena itu, pencegahan adalah langkah pertama dan paling pentingĀ dalam menghadapi pencemaran merkuri tambang emas rakyat.
6. Retort: Penting untuk Mengurangi Bahaya, tetapi Bukan Solusi Akhir
6.1 Mengapa Retort Diperlukan
Tahap paling berbahaya dalam pengolahan emas rakyat adalah pembakaran amalgam. Tanpa alat penangkap, uap merkuri terlepas ke udara dan langsung terhirup oleh penambang dan orang di sekitarnya (Telmer, 2007).
Retort adalah alat tertutup yang menangkap uap merkuri saat pembakaran dan mengembunkannya kembali menjadi merkuri cair.
Dengan cara ini, retort:
mengurangi paparan langsung
mengurangi pencemaran udara
mengurangi merkuri yang kembali ke tanah
menghemat merkuri karena bisa digunakan ulang
Beberapa sistem retort lokal dikembangkan agar sesuai dengan kebiasaan kerja penambang dan lebih mudah diterapkan di lapangan.

Membaca info lebih lanjut mengenai Rexaman. Alat untuk menangkap asap air raksa, supaya lebih aman, sehat dan juga ... lebih murah.
6.2 Retort sebagai Langkah Awal, Bukan Tujuan Akhir
Hal ini harus dikatakan secara jujur dan terbuka:
retort bukan solusi optimal untuk pencemaran merkuri tambang emas rakyat.
Retort hanya bekerja pada tahap pembakaran. Ia tidak menghilangkan penggunaan merkuri, dan tidak mencegah pencemaran pada tahap pencampuran maupun pembuangan tailing.
Karena itu, retort harus dipahami sebagai langkah perbaikan awal (harm reduction). Retort melindungi kesehatan penambang dan lingkungan hari ini, sambil membuka jalan menuju pengolahan emas tanpa merkuriĀ sebagai tujuan akhir.
Fitoremediasi memperbaiki kerusakan masa lalu. Retort mencegah kerusakan hari ini.Penghapusan merkuri adalah tujuan masa depan.
7. Mengapa Pendekatan Ini Masuk Akal untuk Tambang Rakyat
Pendekatan yang menggabungkan:
pencegahan pencemaran sejak sumber,
penggunaan retort sebagai langkah awal,
dan pemulihan tanah dengan tumbuhan lokal,
memiliki beberapa kelebihan penting:
biaya rendah
teknologi sederhana
bisa dilakukan bertahap
tidak memaksa tambang berhenti mendadak
Pendekatan ini tidak sempurna, tetapi lebih baik daripada membiarkan pencemaran terus terjadi.
8. TINDAKAN NYATA: APA YANG HARUS DILAKUKAN PENAMBANG
Bagian ini dibuat khusus untuk penambang dan kelompok tambang.Tidak teori. Tidak wacana. Langsung bisa dilakukan.
A. Langkah Harian
Jangan bakar amalgam terbuka
Gunakan retort setiap pembakaran
Simpan merkuri di wadah tertutup
Jangan buang tailing ke sungai atau sawah
B. Langkah Mingguan
Tandai lokasi tercemar
Biarkan gelagah, senduduk, dan purun tumbuh
Jangan membersihkan atau memindahkan tanah tercemar
C. Langkah Bulanan
Buat kesepakatan kelompok tambang
Pisahkan lokasi kerja dan rumah
Kurangi penggunaan merkuri secara bertahap
D. Hal yang Tidak Boleh Dilakukan
Jangan menganggap retort sudah cukup
Jangan memindahkan masalah ke tempat lain
Jangan menggunakan tanaman dari area tercemar
9. Penutup: Antara Emas dan Tanah yang Ditinggalkan
Tambang emas rakyat adalah kenyataan hidup. Namun pencemaran merkuri tambang emas rakyat bukan takdir.
Langkah kecil yang dilakukan terus-menerus dapat:
melindungi kesehatan
menjaga tanah tetap hidup
mengurangi konflik
menjaga masa depan
Yang penting bukan sempurna, tetapi mulai dan konsisten.
Daftar Sumber / Referensi
Alfian, Z. (2006). Antara manfaat dan efek penggunaan merkuri bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Alkorta, I., et al. (2004). Phytoremediation of soils contaminated with toxic metals.
Ardiyati. (2018). Struktur dan komposisi tumbuhan.
Baker, A. J. M., et al. (2000). Metal hyperaccumulator plants.
Cui, S., et al. (2007). Heavy metal accumulation.
Juhriah & Alam, M. (2016). Fitoremediasi merkuri.
Mirdat, et al. (2013). Status merkuri pada tanah tambang emas.
Pilon-Smits, E. (2005). Phytoremediation.
Romadhon, A. (2008). Indeks nilai penting vegetasi.
Singh, S. (2012). Phytoremediation as sustainable alternative.
Telmer, K. (2007). Mercury and small-scale gold mining.
Yoon, J., et al. (2006). Accumulation of heavy metals.




Komentar