top of page

Jin dan Emas di Bombana

  • Gambar penulis: Leend
    Leend
  • 17 jam yang lalu
  • 7 menit membaca

Demam Emas, Uang Panas, dan Kejatuhan Seorang Penambang. Mimpi tentang emas, uang panas, dan beban yang tak sanggup dipikul manusia


butiran emas di tahite bombana

Sebelum Emas: Hidup Sederhana yang Utuh

Jin dan emas Bombana menjadi narasi yang melekat sejak demam emas di Sungai Tahi-Ite meledak pada 2008, mengubah kehidupan ribuan penambang dan satu orang bernama Budi. Sebelum ada emas, Budi adalah petani di Rau-Rau, wilayah Rarowatu, Bombana. Hidupnya sempit, tapi terasa utuh. Ia bangun sebelum subuh bukan karena ingin disebut rajin, tapi karena tanah memang menuntut begitu. Rumahnya dari kayu yang menghitam oleh asap dapur bertahun-tahun. Atapnya bocor sedikit kalau hujan turun deras. Apa yang ia miliki sudah tua, tapi masih bisa dipakai. Kalau belum punya sesuatu, ia menunggu.


Makannya sederhana—nasi, kadang ikan, kadang cuma garam dan cabai. Ia tidak banyak bicara. Kalau pinjam alat, ia kembalikan bersih. Ia tidak suka berjudi. Ia tidak banyak minum. Ia membantu tetangga tanpa cari pujian. Bertahun-tahun kemudian, orang-orang mengingatnya sebagai orang yang tidak menonjol—dan di kampung, itu sering jadi pujian tertinggi.


Bertahun-tahun sebelumnya, Budi pernah sebentar bekerja sebagai penambang emas kecil-kecilan di daerah lain di Indonesia. Ia tahu rupa emas sebelum dibersihkan. Ia tahu emas jarang berkilau saat pertama ditemukan. Tapi emas tidak pernah jadi tujuan hidupnya. Itu cuma pekerjaan. Tidak lebih.



Mimpi tentang Emas: Perintah yang Jelas (Pertengahan 2008)

Malam yang mengubah semuanya sebenarnya malam biasa.

Tidak ada badai.

Tidak ada sakit.

Tidak ada ritual.

Budi tidur seperti biasanya. Di malam itu, ia bermimpi.


Mimpinya tidak samar. Tidak rumit. Mimpinya jelas.

Ia melihat Sungai Tahi-Ite dekat desanya—bukan seluruh sungai, tapi satu tikungan tertentu, tempat bambu condong ke air dan akar-akar menahan pasir berat. Dalam mimpi itu ada suara yang bicara. Suaranya tenang, langsung, tanpa ancaman dan tanpa janji. Suara itu memanggil namanya, lalu berkata:

“Pergi ke Sungai Tahi-Ite di desamu. Ada emas di sana. Kerjakan.”

Itu saja. Saat bangun, kalimat itu masih utuh. Bukan rasa. Bukan firasat. Tapi kata-kata. Budi tidak menafsirkan. Tidak menambah makna. Tidak cerita ke siapa pun. Ia memperlakukan itu seperti orang praktis memperlakukan instruksi: ia coba.



Pagi Pertama Mencuci Emas di Tahi-Ite

Sebelum matahari terbit, ia membawa dulang dan berjalan ke sungai.

Udara dingin. Batu-batu licin. Ia masuk ke air dan mengatur posisi badan—kaki agak terbuka, lutut lentur, badan seimbang. Dulang ia pegang rata, bibirnya sejajar, pergelangan tangan tidak tegang. Kalau terlalu kaku, pasir meloncat. Kalau terlalu lemas, kendali hilang.


Ia celupkan dulang sampai air menutup isinya kira-kira dua ruas jari. Tidak lebih. Ia dorong ke depan lalu tarik ke belakang. Bukan diguncang keras—lebih seperti digoyang pelan.


Gerakannya kecil dan rapi. Sungai yang menyortir.

Kuarsa lepas lebih dulu.

Lalu pasir pucat.

Lalu kerikil cokelat.

Yang tertinggal pasir hitam—magnetit—bahan berat yang rapat seperti tepung basah.


Dulang terasa lebih berat, bukan karena jumlahnya, tapi karena yang tersisa lebih padat. Ia miringkan sedikit bibir dulang dan memutar pelan.

Lalu ia merasakannya.

Bukan dengan mata.

Dengan ibu jari.


Ada titik yang menahan. Ada sesuatu yang berat dan tidak mau ikut bergerak.

Ia bersihkan sekitarnya pakai kuku, hati-hati supaya tidak menyentil. Kalau menyentil, emas bisa terlempar. Muncul gumpalan kecil, masih setengah tertanam.


Ia keluarkan pelan, lalu jepit antara ibu jari dan telunjuk.

Langsung terasa.


Benda itu “menarik” ke bawah. Tidak berlebihan, tapi benar.

Beratnya pasti. Seakan-akan benda itu tahu di mana gravitasi tinggal.

Ia bersihkan perlahan.

Pertama berat.

Lalu tekstur.

Baru warna.

Kuningnya khas—agak gelap. Tidak mencolok. Tidak berkilau. Kuning yang diam.


Ia tekan dengan kuku. Permukaannya penyok sedikit. Bekasnya tinggal.

Tidak pecah. Tidak retak. Tidak bohong.


Ia jatuhkan lagi ke dulang. Tidak memantul. Tidak menggelinding. Jatuh lurus ke pasir hitam dan hilang. Kalau sudah kenal berat itu dengan benar, orang tidak buru-buru.



Emas yang Teratur: Dari Sunyi Jadi Ramai (Pertengahan–Akhir 2008)

Selama beberapa minggu, hidup Budi nyaris tidak berubah. Ia tetap bertani. Tetap makan sederhana. Tetap tidur awal. Ia mencuci pasir diam-diam, mengumpulkan sedikit demi sedikit emas, lalu menjualnya ke Kendari.


Jumlahnya naik pelan. Yang membuatnya aneh bukan banyaknya, tapi keteraturannya.

Keteraturan itu lebih “berisik” daripada kelimpahan.


Sekitar September 2008, kabar tentang emas Bombana menyebar luas. Surat kabar nasional menulis bahwa puluhan ribu orang sudah berdatangan. Tapi Budi merasakan perubahan itu bukan dari koran. Ia merasakannya dari sungai: orang asing makin banyak, dulang baru di mana-mana, tenda berdiri rapat, api unggun menyala di tempat yang dulu sepi.



Jin dan Emas Bombana: Sungai Tahi-Ite Dipenuhi Penambang (Akhir 2008 – Awal 2009)

Menjelang akhir 2008, sungai bukan lagi tempat. Rasanya seperti lorong.

Orang datang dari Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara, Sumatra. Ada yang membawa alat. Banyak yang datang hanya dengan dulang dan utang. Pada awal 2009, jumlah penambang tradisional di Bombana sudah lebih dari enam puluh ribu orang.


Sungai Tahi-Ite dan sekitarnya penuh tenda.

Asap menggantung siang dan malam.

Orang bekerja rapat-rapat, bahu berdempetan.

Ada yang dapat emas. Kebanyakan tidak.

Ada yang menjadi kaya sekali.

Ada yang jadi miskin.


Ketimpangan itu butuh penjelasan.

Ada yang bilang itu rezeki.

Ada yang bilang itu keterampilan.

Ada yang bilang itu nasib.

Dan ada yang bilang: jinn.



Jinn dan Emas: Cara Orang Menjelaskan Rezeki

Dalam cerita-cerita yang beredar di kamp, jin dan emas Bombana tidak lagi dipisahkan: emas dianggap dijaga, diberikan, dan ditarik kembali oleh kekuatan yang tak terlihat. Orang bilang jin menjaga emas. Jin menilai niat. Jin bisa membuka atau menutup rezeki. Emas jadi seperti wilayah moral. Niat harus bersih. Mulut dan pikiran harus dijaga. Kalau serakah, emas disembunyikan. Kalau melanggar aturan tak tertulis, jinn marah.


Uang dari emas yang dimiliki orang yang tidak beres disebut uang panas.

Uang yang tidak bisa diam.

Uang yang bikin gelisah.

Uang yang cepat bocor ke mana-mana—judi, alkohol, perempuan, perjalanan, pesta.

Malam yang menelan pagi.


Budi ikut berubah. Pakaian lebih bagus. Makan lebih enak. Jalan ke Kendari, Makassar, Jakarta. Orang yang dulu terbiasa dengan kekurangan dan memiliki kemampuan untuk bertahan, sekarang memperlakukan uang seperti air.

Orang bilang jin sedang mengujinya.



Emas Tidak Habis, Tapi Aksesnya Habis (2009–2025)

Negara baru benar-benar hadir setelah semuanya terlanjur besar.

Menambang tanpa izin itu ilegal, tapi lama dibiarkan selama ada setoran. Ketika penertiban datang, ia datang pelan tapi pasti. Ada razia. Ada pemeriksaan. Ada penertiban. Namun selalu selektif saja. Ada berkas yang bergerak dan hilang kalau “diurus”.


Banyak orang bertahan dengan cara masing-masing. Banyak juga yang tumbang perlahan.


penambang emas di tahite bombana

Pelan-pelan sungai ditutup. "Izin lokal" dicabut. Wilayah dipetakan ulang.

Yang tadinya terbuka jadi sempit. Yang tadinya ditoleransi jadi berisiko. Bukan cuma emas yang disaring—manusianya juga.


Secara resmi, wilayah Tahi-Ite kemudian dibagi ke enam perusahaan tambang. Di atas kertas, era tambang rakyat selesai dan digantikan tambang formal. Tapi di lapangan, ceritanya lain.


Dari enam perusahaan itu, hanya satu yang benar-benar beroperasi, dan itu pun dalam skala kecil. Tidak ada penyerapan tenaga kerja besar-besaran. Tidak ada produksi masif. Lima perusahaan lain lebih banyak hadir sebagai nama di dokumen, bukan sebagai aktivitas. Bahkan perusahaan tersebut sudah di non-aktifkan.


Yang terjadi bukan peralihan dari tambang rakyat ke tambang perusahaan.

Yang terjadi adalah kekosongan.


Emasnya masih ada. Sungainya masih mengalir.

Pada pertengahan 2020-an, ketika yang tersisa dihitung, angkanya terasa pahit. Di Tahi-Ite tinggal sekitar 210 keluarga dengan kurang lebih 800 penambang aktif. Di Wumpubangka yang berdekatan, sekitar 400 orang masih bekerja.


Dari lebih dari 60.000 orang yang pernah memadati Bombana pada awal 2009, kini kurang dari 1.200 yang tersisa.


Bukan karena emasnya habis. Bukan juga karena tambang perusahaan benar-benar menggantikan mereka. Tapi karena ruang hidup di antaranya menghilang.



Pulang Tanpa Emas: Beban yang Tertinggal

Saat Budi pulang ke Rau-Rau untuk selamanya, suasananya sunyi.

Tubuhnya yang pertama mengaku. Lebih kurus. Lebih lemah. Ladang mengalahkannya sebelum tengah hari. Malam panjang. Uang tidak lagi menyelesaikan masalah.

Ia meminjam di tempat yang dulu ia memberi. Ia menghindari orang. Yang hilang bukan cuma uang.


Yang hilang adalah bentuk dirinya dan marwanya.

Ini bukan hukuman.

Ini penyusutan.



Dulang Emas yang Membuat Jijik

Dulang itu bersandar di dinding. Tergores. Kusam. Bibirnya bengkok. Lumpur kering menempel. Alat yang memulai semuanya. Ia sentuh sekali. Dan ia merasa jijik.


Bukan takut. Bukan marah. Tapi menolak. Seolah-olah logam itu membawa semua malam tanpa tidur, semua sakit, semua ruangan kosong. Dulang itu tidak bersalah. Tapi apa yang tumbuh dari dulang itu sudah menghancurkannya.

Ia dorong dengan kaki.

Ia balikkan.

Pikirannya berat.

Lalu ia pergi.



Jin, Emas, dan Beban yang Tidak Seimbang

Orang-orang bilang jin sudah menghukumnya.

Tapi Budi tahu sesuatu yang lebih sederhana.


Emas masuk ke hidupnya dengan sunyi. Emas keluar dengan keras.

Yang menghancurkannya bukan makhluk gaib, tapi berat—berat yang tidak pernah ia punya pijakan untuk memikulnya.


Itu sebabnya orang-orang tua di sekitar tambang sering bilang:

emas butuh niat yang bersih dan karakter yang stabil. Doa bukan takhayul. Doa itu seperti seperti jangkar.


Nasib baik bukan pemberian jinn. Itu milik Tuhan saja.

Dan mungkin bukan jinn yang menjatuhkan Budi, tapi kebiasaan manusia memindahkan tanggung jawab—ke jinn, ke rezeki, ke nasib—sampai tanah di bawah kaki sendiri runtuh.


Karena kekayaan, kalau datang tanpa pijakan, tidak cuma mengubah hidup. Ia bisa membengkokkannya. Dan kalau seseorang tidak berjangkar, berat itu bisa menghancurkannya.


Seperti yang terjadi pada Budi.



Daftar Pustaka


Meskipun ditulis dalam bentuk naratif, artikel ini didasarkan pada peristiwa dan laporan yang terdokumentasi. Kejadian-kejadian serta alur cerita utama bersifat faktual dan didukung oleh sumber-sumber yang tercantum dalam daftar pustaka di bawah ini.


Kompas. (18 September 2008). [Artikel tentang demam emas Bombana dan masuknya penambang pada tahap awal]. Harian Kompas.(Laporan awal yang menunjukkan masuknya lebih dari 20.000 penambang.)


Surono, & Tang, A. (2009). [Pertambangan emas aluvial dan demam emas Bombana]. Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).(Laporan konferensi/profesional yang memperkirakan sekitar 63.000 penambang pada Januari 2009.)


Idrus, A., dkk. (2011). Pertambangan emas rakyat skala kecil di Bombana, Sulawesi Tenggara. Indonesian Journal on Geoscience, 6(3), 155–168.(Estimasi berbasis kajian ilmiah lebih dari 60.000 penambang pada masa puncak.)


Mokui, F., & Pidani, O. (2019). Jin dan uang panas: Moralitas dan risiko kultural dalam pertambangan emas di Bombana, Indonesia Timur. Kawalu: Journal of Local Culture, 6(1).(Narasi moral, kepercayaan terhadap jin, konsep “uang panas”, dan lintasan kehidupan Budi.)


IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. (2025). [Kajian terbaru mengenai aktivitas pertambangan emas rakyat di Kabupaten Bombana]. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science.(Estimasi kondisi terkini sekitar 800 penambang di Sungai Tahi-Ite.)

Komentar


stephen-atmpromining-blog.webp

Hallo. Saya Stephen.

 

Saya dan tim saya di Promining™ membantu Anda mendeteksi dan mengolah segala jenis emas. 

Thanks for registering.

Ahli-Pendeteksian-Emas-ATM-Promining_edited.png

Signup . Kamu juga bisa detektsi emas.

Bersama Promining,
Penambang Saling Maju. 

Promining Tokopedia Shop Logo

Metal Detection Center Indonesia

Promining™ . PT Xpertum Henze Karsa

Jl. Warung Buncit Raya No. 99 RT.7/RW.5, Kalibata Kec. Pancoran Kota Jakarta Selatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12740, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12790

  • Divisi Pengolahan Mineral

  • Divisi Detektor Emas          

​Jam Kantor:  

Sen. - Kam. 9.00 – 18.0

Jum. 9.00 - 11.30 dan 13.00 - 18.00

Copyright © 2013-2024. All Rights Reserved.

bottom of page