URAT EMAS CIKIDANG
- Leend

- 10 menit yang lalu
- 5 menit membaca
Urat Emas Cikidang, Jawa Barat
Deskripsi teknis lapangan untuk penambang dan engineer tambang
Endapan emas Cikidang berada di wilayah pegunungan Jawa Barat dan termasuk bagian dari Kompleks Kubah Bayahādaerah yang sejak lama dikenal sebagai jalur utama mineralisasi emas. Secara regional, urat emas Cikidang satu sistem dengan Cikotok dan Pongkor, yang membentuk klaster endapan emas epitermal di Jawa Barat (van Bemmelen, 1949; Hamilton, 1979). Medan di lokasi didominasi perbukitan hingga lereng terjal pada elevasi sekitar 900ā1.400 m dpl, sehingga kegiatan eksplorasi dan penambangan perlu perencanaan akses, kontrol bukaan, dan disiplin keselamatan yang kuat.

Dokumen ini ditulis dengan sudut pandang lapangan: apa yang paling penting untuk mengenali urat, menambang secara selektif, dan menjaga kadar tetap stabil.
1. Tipe endapan dan cara berpikir yang benar di lapangan
Cikidang diklasifikasikan sebagai endapan emas epitermal sulfidasi rendah (low-sulfidation epithermal). Model epitermal seperti ini dijelaskan secara klasik oleh Buchanan (1981), dan cirinya umum pada sistem dangkal yang kaya logam mulia tetapi miskin logam dasar.
Di lapangan, implikasinya sederhana: nilai ekonomis dikontrol oleh urat, bukan oleh seluruh massa batuan.
Ciri-ciri yang paling berguna untuk tim tambang adalah:
Emas terkonsentrasi terutama di urat kuarsaĀ (bukan menyebar merata).
Logam dasar (CuāPbāZn) umumnya sangat kecil/tidak signifikan.
Emas banyak hadir sebagai emas asli (native gold)Ā berukuran halus, sering tidak terlihat mata.
Kadar bisa tinggi, tetapi berubah cepatājadi kontrol sampling dan kontrol bukaan jadi kunci.
Kalau tim mengingat empat poin ini, banyak masalah umum (overbreak, dilusi, salah target) bisa dicegah sejak awal.
2. Batuan pembawa dan lingkungan geologi
Urat-urat berada dalam batuan vulkanik Formasi Cimapag berumur Miosen, berupa breksi vulkanik, tuf, dan andesit. Satuan ini kemudian diterobos oleh intrusi andesit yang lebih muda, yang menjadi jalur naik fluida hidrotermal (Soeria-Atmadja et al., 1994). Dalam kerangka busur Sunda, tektonik dan magmatisme regional menyediakan panas dan jalur struktur yang memungkinkan terbentuknya sistem mineralisasi seperti ini (Hamilton, 1979).
Untuk pekerjaan harian, pembeda paling praktis adalah hubungan antara kondisi batuan dan kedekatan terhadap urat:
Batuan segar: keras, abu-abu gelap, biasanya miskin emas.
Batuan teralterasi: lebih pucat dan lebih lunak, biasanya makin dekat ke urat.
Zona struktur/intrusi: sering menjadi koridor urat atau zona rekahan yang āaktifā.

3. Struktur pengontrol dan geometri urat emas Cikidang
Struktur geologi adalah āpeta jalanā mineralisasi di Cikidang. Urat mengisi rekahan tarik dan geser yang dominan berarah UtaraāSelatan, konsisten dengan struktur utama Jawa Barat (van Bemmelen, 1949). Data pemetaan dan bawah tanah menunjukkan parameter yang relatif stabil, sehingga cocok untuk perencanaan development yang sistematis (Basuki, Suparka, & Sunarya, 1998):
Jurus utama sekitar 180°ā210°
Kemiringan dominan ke barat
Dip curam sekitar 60°ā85°
Lebar urat umumnya ±0,7ā2,7 m
Panjang urat utama dapat menerus hingga ±1 km
Selain urat utama, terdapat urat Tengah, Timur, dan Barat. Secara umum urat-urat ini lebih pendek, lebih sempit, dan kadar lebih tidak konsisten, sehingga lebih tepat diperlakukan sebagai target sekunder (Basuki et al., 1998). Dalam bahasa tambang: kejar yang menerus dulu, baru kejar yang lokal.
4. Identifikasi urat di lapangan dan alat bantu (detector)
Di iklim tropis dengan pelapukan kuat, singkapan urat sering tertutup tanah, vegetasi, atau runtuhan sehingga jejak urat bisa āmenghilangā beberapa meter lalu muncul lagi (van Bemmelen, 1949). Karena itu, pengamatan visual saja sering kurang, terutama saat tracing awal dan saat menentukan arah lanjutan urat.
Untuk membantu identifikasi dan pelacakan, rekomendasi lapangan adalah:
Gunakan gold detector lipat dengan sensitivitas tinggi, misalnya Gold Monster 2000
Jika tidak tersedia, minimal gunakan pinpointer, misalnya Pro-Find 40
Alat ini paling berguna untuk pekerjaan berikut:
tracing urat yang tertutup tipis (tanah/pelapukan),
memeriksa cepat urat kuarsa, breksi urat, atau fragmen runtuhan,
membantu memutuskan titik sampling atau titik test.
Catatan penting: detector bukanĀ penentu kadar. Ia alat bantu cepat untuk memastikan āada responā sebelum tim mengeluarkan tenaga dan biaya lebih besar. Pendekatan seperti ini umum dipakai pada sistem epitermal dangkal karena emasnya sering sangat halus dan tidak mudah dikenali secara visual (Hedenquist et al., 2000).
5. Mineralisasi dan tekstur urat
Asosiasi mineral utama adalah kuarsaāadulariaākalsit, yang merupakan ciri khas endapan epitermal sulfidasi rendah (Buchanan, 1981; Hedenquist & Lowenstern, 1994). Emas hadir sebagai emas asli halus dan hampir selalu berasosiasi dengan perak. Karena logam dasar rendah, batuan sering tampak relatif ābersihā (tidak banyak sulfida berat).
Tekstur urat yang paling berguna sebagai petunjuk lapangan adalah:
Banded / colloform: menunjukkan pengendapan berulang; sering berkaitan dengan zona emas baik.
Breksi urat: menandakan rekahan aktif; sering membentuk ore shoot lokal.
Comb textureĀ (bila ada): indikasi ruang terbuka dan aliran fluida.
Kuarsa masif: tidak otomatis jelek, tetapi jangan diasumsikan kaya tanpa uji.
Menurut Buchanan (1981), kombinasi mineral dan tekstur tersebut biasanya muncul pada zona precious-metal horizonĀ dalam sistem epitermalāyaitu level vertikal yang paling āramahā untuk AuāAg.
6. Kadar, sebaran, dan pola ke kedalaman
Data eksplorasi menunjukkan rata-rata kadar sekitar Au 11ā12 g/tĀ dan Ag sekitar 70 g/tĀ (Basuki et al., 1998). Namun karakter epitermal membuat kadar sangat variatif; perubahan bisa terjadi dalam jarak pendek, dan lebar urat tidak selalu sejalan dengan kadar (Hedenquist et al., 2000).

Poin lapangan yang perlu selalu diingat:
Urat tebal tidak otomatisĀ berkadar tinggi.
Urat tipis bisa āmenembakā kadar tinggi secara lokal.
Secara umum, kadar cenderung menurunĀ ke arah kedalaman, sesuai model vertikal epitermal (Buchanan, 1981).
Karena itu, development ke bawah harus berjalan bertahap dan berbasis dataābukan asumsi.
7. Alterasi sebagai panduan cepat saat development
Alterasi di sekitar urat berkembang berlapis dari dalam ke luar. Pola ini sesuai dengan pemahaman sistem epitermal sulfidasi rendah, di mana mineral alterasi berubah dengan jarak dari jalur fluida (Hedenquist & Lowenstern, 1994).
Secara praktis di lapangan:
Zona dekat urat sering menjadi lempung kuat / pucatĀ dan lebih lunak ā biasanya paling prospektif.
Menjauh dari urat, alterasi melemah ā risiko kadar turun.
Jika batuan sudah dominan kehijauan (propilitik)Ā secara luas ā sering menandakan zona luar sistem.
Pola alterasi ini sangat membantu ketika urat tertutup atau ketika tim perlu memutuskan apakah masih ādi sistemā atau sudah keluar.
8. Implikasi operasional tambang
Karena ini tambang urat sempit, pendekatan terbaik adalah penambangan bawah tanah yang selektif dan disiplin, sebagaimana umum diterapkan pada banyak sistem epitermal urat (Buchanan, 1981). Fokusnya bukan āseberapa cepat bukaā, tetapi āseberapa rapi mengikuti uratā.
Risiko yang paling sering merusak kadar adalah:
DilusiĀ akibat bukaan terlalu lebar/overbreak,
Salah arah development (tidak mengikuti jurus/dip),
Variasi kadar yang cepat tanpa kontrol sampling,
Pengembangan terlalu dalam tanpa bukti kadar.
Jika kontrol bukaan, mapping, dan sampling dijaga ketat, endapan seperti ini biasanya memberi hasil yang stabil.
9. Kesimpulan lapangan
Cikidang adalah endapan epitermal sulfidasi rendah yang terbentuk pada lingkungan vulkanik Neogen Jawa Barat. Karakter mineral, tekstur urat, dan zonasi vertikalnya konsisten dengan model epitermal klasik (Buchanan, 1981; Hedenquist et al., 2000), serta sejalan dengan data pemetaan dan eksplorasi setempat (Basuki et al., 1998). Keberhasilan tambang ditentukan oleh kemampuan tim untuk mengikuti urat secara presisi, menekan dilusi, dan mengambil keputusan berdasarkan data lapanganābukan asumsi.
Daftar referensi
Basuki, A., Suparka, E., & Sunarya, Y. (1998). Gold deposit in the Cikidang area, West Java, Indonesia. Proceedings of the GEOSEA ā98 Congress, Kuala Lumpur.
Buchanan, L.J. (1981). Precious metal deposits associated with volcanic environments. Society of Economic Geologists.
Hamilton, W. (1979). Tectonics of the Indonesian region. U.S. Geological Survey.
Hedenquist, J.W., & Lowenstern, J.B. (1994). The role of magmas in the formation of hydrothermal ore deposits. Nature.
Hedenquist, J.W., Arribas, A., & Gonzalez-Urien, E. (2000). Epithermal gold deposits. Reviews in Economic Geology.
Soeria-Atmadja, R., et al. (1994). Neogene magmatism of Java.
van Bemmelen, R.W. (1949). The Geology of Indonesia. Government Printing Office.





Komentar